Saturday, December 23, 2017

Kisah Inspratif Tentang Filosofi Mutiara



Kisah Inspiratif - Bertahun-tahun lalu, hampir sebelum waktu dimulai, hiduplah seekor tiram. Sepanjang hidupnya, tiram selalu berada di dasar laut yang berpasir, bergerak-gerak tanpa tujuan di dalam lumpur pada kedalaman samudra.

Lalu suatu malam, bulan purnama, dan sinarnya yang benderang menembus bahkan wilayah-wilayah paling gelap dalam kedalaman lautan. Di suatu tempat dalam kedalam- annya, tiram menyadari cahaya benderang yang menerobos perairan, menyentuh inti dirinya, bahkan mampu menembus cangkangnya yang keras. Dalam cara yang tak mampu dipa- haminya, ia sangat terpikat oleh cahaya misterius itu, dan tertarik, seakan oleh kekuatan magnet, ke permukaan air dan sumber cahaya tersebut.

Dengan mantap, ia naik melintasi air. Saat memecah per- mukaan air, ia terperangah oleh kecemerlangan cahaya itu, yang kini dirasakannya langsung, sesuatu yang mustahil dilaku- kannya di bawah air. Cahaya itu begitu mulia dan memiliki kekuatan yang mengundang dan tak mampu ditolaknya, untuk membuka diri di hadapan cahaya yang menakjubkan itu. Cangkangnya membuka sedikit di bawah pengaruh cahaya itu, cukup untuk menangkap serpihan cahaya bulan di dalam inti dirinya dalam keabadian.

Tiram itu makhluk mortal, dan penglihatannya hanya ber- tahan sekejap. Gelombang air kembali menariknya ke dasar laut. Tapi mutiara terbentuk dalam dirinya, buah pertemuan surgawi tadi, dan mutiara itu mulai berkembang, perlahan, hampir tak terlihat, sepanjang tahun-tahun kehidupan sang tiram.

Tiram itu pun menua, tidak pernah melupakan harta yang dipendamnya dalam hati, dalam inti keberadaannya. Namun kemudian hari kelabu pun menjelang, dan lautan menggila dan bergemuruh. Bayangan perahu nelayan melintas di dasar laut. Sebelum tiram sempat menyerap apa yang terjadi padanya, ia tertangkap dalam jaring kematian, dan ditarik keluar dari air. Jantungnya mencelos. Mutiara dalam dirinya gemetar ketakutan. Tiram itu bergidik di dasar perahu nelayan, dengan takut menanti apa yang akan terjadi padanya selanjutnya.

Malam pun turun. Badai mereda, dan bulan purnama sekali lagi menyinarkan cahayanya di atas samudra yang tenang, seperti Ibu Mutiara di langit kelam. Bahkan saat sang tiram tua menengadah untuk terakhir kalinya, dari kedalaman pe- rahu, pada langit di atas bumi, ia dapat merasakan dirinya dirangkum dalam kelembutan tangan Pembuat-Mutiara.

la menahan napas saat jemari Pembuat-Mutiara meraihnya, membujuk cangkangnya, yang diselubungi pengalaman hidup bertahun-tahun, untuk membuka, dan menatap dengan penuh cinta pada mutiara yang telah dibuatnya. "Aku sudah menung- gumu, mutiara kecil," gumam Pembuat-Mutiara. "Tanpamu, kalung abadiku takkan sempurna." Lalu Pembuat-Mutiara pun membawa mutiara itu, dengan kelembutan tiada tara, ke lingkaran mutiara besar yang membentang hingga jauh ke cakrawala, masing-masing disayangi secara unik oleh pembuatnya. Pembuat-Mutiara bergabung dengan mutiara itu menuju lingkaran cahaya, dan menempatkan kalung ber- kilauan itu di sekeliling bumi.

Hingga hari ini, bumi dikelilingi lingkaran halo mutiara dalam cincin cahaya abadi.

No comments:

Post a Comment